Siklus Peradaban dan Kepahlawanan

4 07 2008

Oleh : Muhammad Kholid

Jika sejarah adalah sebuah industri besar yang memproduksi peradaban maka pahlawan adalah salah satu variabel faktor produksi yang terpenting. Sama halnya dengan sebuah produk, maka peradaban juga mengalami yang namanya life cycle. Dan dalam life cycle itu, pahlawanlah yang menjadi variabel utamanya.

Siapa mengira peradaban Eropa yang telah runtuh dan berada dalam ‘the darkness middle age’ selama 1000 tahun lebih mampu reborn, tumbuh bahkan bangkit memimpin dunia kembali? Siapa yang percaya bahwa Islam sebagai sebuah peradaban yang pernah berhasil memimpin dunia selama 700 tahun, dan peletak dasar-dasar keilmuan peradaban barat sekarang ini mengalami dramatic decline yang luar biasa ? Atau bagaimana mungkin kedigdayaan Romawi dan Yunani kuno yang tak tertandingi bisa ditaklukan oleh negeri gersang pimpinan seorang nabi yang bahkan membaca saja tidak bisa (ummi)? Tengoklah sejenak bagaimana sejarah bercerita tentang Negara agraris yang sangat miskin, terisolir, dan bahkan sangat tidak menarik walau hanya untuk dijadikan daerah jajahan pada akhirnya bisa bangkit menjadi kekuatan economic super power baru hanya dalam jangka waktu 40 tahun setelah Restorasi Meiji ?

Suatu ketika Raja Faruk, Raja Mesir terakhir sebelum Revolusi Nasser, berkomentar terhadap seorang aktivis muda yang masih berusia 22 tahun. “ Apa sih yang bisa dilakukan oleh seorang guru ngaji madrasah?,” Katanya risih karena ulah pemuda yang satu ini. Benar memang. Apa sih yang bisa dilakukan oleh anak muda usia 22 tahun yang baru lulus kuliah dan hanya bekerja sebagai guru ngaji di madrasah terhadap rezim yang berkuasa dan mendapat back up penuh dari kolonial yang juga Negara super power saat itu?Tak ada ! Jawab logika kita. Tapi anak muda ini berkata, “Aku adalah pengembara yang mencari hakikat manusia, aku adalah manusia yang mencari makna kemanusiaan di tengah masyarakat, aku adalah warga Negara yang menginginkan agar umatnya mendapat kemuliaan, kemerdekaaan, kestabilan dan kehidupan yang baik dalam naungan Islam yang hanif !”. Ketika beribu alasan memaksanya untuk mengatakan ‘tidak mungkin’ menentang kedzaliman dan kolonialisme yang menjajah agama dan negerinya, bahkan ketika ‘sejarah’ saat itu tidak berbaik hati untuk memberinya secercah harapan, dia dengan lantang berkata, “ Kebangunan semua bangsa di dunia ini selalu bermula dari kelemahan. Sesuatu yang sering membuat orang yang ketika melihatnya berkeyakinan bahwa pencapaian kebangunannya adalah sesuatu yang mustahil.Tetapi dibalik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan dan ketenangan dalam melangkah dapat mengantarkan bangsa-bangsa lemah itu merangkak dari ketidakberdayaannya menuju takdir kejayaannya..”

Anak muda ingusan ini telah berhasil mendirikan maha karyanya dalam sebuah International Islamic Movement yang dia namakan Al Ikhwan Al Muslimun yang kini menjadi gerakan revivalisme tandingan peradaban barat dan menyebarkan ideologi dan inspirasinya di lebih dari 70 negara. (Termasuk di Indonesia, terutama di kampus-kampus sekuler terkemuka negeri ini). Dia telah mendirikan bangunan kepahlawanan. Sebuah bangunan yang baik. Sangat baik. Seperti namanya. Hasan Al Banna.

Sekarang pertanyaannya adalah : jika peradaban ‘diciptakan’ oleh pahlawan, maka kapan seorang pahlawan itu akan lahir?

Kelemahan, itulah kata kuncinya. Ketika kelemahan menguatkan kelemahan. Ketika kelemahan bercampur kelemahan. Ketika kelemahan di atas kelemahan. Saat itulah manusia pahlawan mengenakan baju kebesarannya sebagai Sang Pahlawan.

Itulah pekerjaan yang dilakukan oleh FDR, panggilan akrab Franklin Delano Rosevelt, satu-satunya presiden USA yang terpilih sampai empat kali jabatan. Ketika dia memimpin, ada empat bencana besar yang menimpa dirinya. The Great Depression yang melumpuhkan total system kapitalisme Amerika dan mematahkan teori invisible hand Adam Smith, penyakit polio yang melumpuhkan kakinya, kebangkitan Nazi yang mulai menguasai Eropa dan mengancam Amerika dan peristiwa mengerikan di Pearl Harbour. Anda bisa bayangkan, kegiatan sosial, ekonomi, politik, keamanan dan bahkan kesehatan dirinya sangat layak untuk dia jadikan alasan membiarkan Amerika mengakhiri sejarahnya sebagai negeri super power. Bahkan saat itu semua pembantu dan orang-orang terdekatnya pesimis akan kebangkitan kembali Amerika dibawah kepemimpinannya. Saat itu FDR marah besar dengan kerdilnya jiwa para pembantunya. Lalu dia berdiri kemudian berkata, “ This great nation will endure as it has endured, will revive and will prosper. So first of all, let me assert my firm belief, that only thing we have to fear is fear itself “

New Deal ! Dia mencanangkan kebijakan barunya yang sangat melegenda itu. Dia mendobrak mitos Laissez Faire- Smithian dan mulai menerapkan government’s intervention ke pasar seperti yang disarankan oleh Keynes dalam General Theory nya yang termasyhur itu. Dia tingkatkan government’s expenditures. Dia bantu para petani, mensubsidi harga produk petani dan menerapkan Agriculture Adjustment Act. Untuk menangani unemployment, dia bangun infrastruktur besar-besaran dalam bidang public goods seperti Civilian Conservation Corps, Civil Work Administration Work dan Work Progress Administration (WPA). Jutaan orang yang sebelumnya menganggur jadi bisa bekerja lagi. Mereka bekerja dalam pembangunan jalan,jembatan, bendungan, bandara, sekolah, universitas, perpustakaan, hospital dll. WPA juga memberikan pekerjaan pada para artis dan seniman untuk berkreasi. Hasilnya? 500 ribu mil jalan raya berhasil dibangun, 100 ribu jembatan di seluruh Amerika berhasil dibangun termasuk Golden Gate, 110 ribu gedung public, 600 ribu pelabuhan udara besar dan kecil, Empire State Building yang merupakan gedung pencakar langit saat itu pun dibangun dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan kesusksesannya yang fenomenal ini, FDR disejajarkan bersama George Washington Sang Pendiri Amerika Serikat dan Abraham Lincoln, The Legend President of USA.

Ketika sebuah peradaban mandul dan ‘impotent’ untuk melahirkan pahlawan, maka disaat itulah peradaban akan menemui yang oleh Francis Fukuyama sebut sebagai ‘The End of History. Dan sebaliknya, ketika segumpal janin pahlawan tertanam di rahim sejarah, maka anak peradaban yang baru akan siap terlahir kembali. Inilah yang terjadi pada Romawi dan Yunani kuno sebagai pusat peradaban Eropa. Peradaban besar hasil karya Alexander The Great, Julius Caesar dan Marcus Aurelius ini harus runtuh oleh serangan orang-orang Barbar yang sudah lama menghuni perbatasan utara Eropa pada tahun 476 M. Sungguh tidak masuk akal, negeri yang melahirkan para The Greatest Philosopher seperti Socrates, Aristoteles, Plato, Cicero, Homer dan Galen ini tiba-tiba harus lenyap dan menghilang termakan waktu selama 1000 tahun lebih. Hingga tibalah masa Renaisance di Italia. Lahirlah Sang Bangsawan sekaligus Ilmuwan yang haus dengan ilmu, Cosimo de Medici dan Lorenzo de Medici pada Abad 14. Mereka membangun perpustakaan besar-besaran sebagi pusat kajian intelektual para filosof Yunani-Roamwi Kuno dan Islam yang masih tersisa. Gayung bersambut, Johann Guttenburg seorang pengusaha dan ahli logam asal Jerman berhasil menciptakan terobosan yang luar biasa dengan membuat mesin percetakan yang saat itu masih belum ada. Penemuan besar ini mengubah wajah peradaban Eropa dengan sangat cepat. Karya-karya terbaik peradaban Romawi-Yunani Kuno serta Islam dicetak dalam jumlah yang sangat banyak dan disebar keseluruh penjuru Eropa. Dengan begitu, maka lahirlah Leonardo Da Vinci, Sang manusia Super Genius. Lahirlah pahlawan-pahlawan lain seperti Copernicus, Galileo Galilei, Rene Descrates dan Newton. Eureeka ! Inilah awal Renaisance Eropa.

Siklus peradaban dan kepahlawanan adalah dua pasangan yang tak bisa dipisahkan. Keduanya saling membutuhkan dan menciptakan. Saya jadi teringat dengan dictum Thomas Carlyle yang terkenal, “ Sejarah (peradaban) hanyalah catatan orang-orang besar (pahlawan). Tidak kurang tidak lebih “.

Pada akhirnya saya hanya bisa bertanya : kapan ibu pertiwi ini akan melahirkan pahlawan-pahlawan untuk bangsaku yang sedang mati suri ini? Apakah dia sedang ‘hamil tua’? Atau jangan-jangan ia memang sudah ‘mandul’ dan tak bisa melahirkan lagi seorang pahlawan?


Actions

Information

One response

4 08 2008
Salapeele

Brilliant!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: