Sporty dan Syar’i

29 06 2008

Olah raga atau riyadhoh bukan lagi menjadi hal yang asing di telinga saudaraku semua. Tapi, topik pembahasan kita kali ini tentu akan lebih menarik, karena yang menjadi objek di sini adalah Riyadhoh dan muslimah. Riyadhoh merupakan salah satu sarana bagi kita untuk menjaga kebugaran tubuh, yang notabene adalah titipan Allah swt pada kita. Logisnya, kalau kita menitipkan sesuatu, kita pasti mau barang kita kembali dengan utuh dong? Begitu juga dengan Allah swt. Dia menitipkan kita badan yang sehat dan lengkap sehingga kita bisa beraktivitas dengan normal, serta menjalani kehidupan ini dengan wajar. ‘Barang titipan ‘ ini harus kita jaga.Kita sudah diperbolehkan memakai tubuh ini. Jadi, sudah sewajarnya pula kita jaga agar useful life-nya sesuai dengan jatah hidup kita di dunia ini. Salah satu caranya adalah riyadhoh (baca;olahraga).

Kalau kasusnya seperti itu, riyadhoh kita bisa jadi bernilai ibadah lho? Siapa bilang ibadah itu cuma sholat atau ngaji saja? Biar riyadhoh kita jadi ibadah juga, jangan lupa untuk meluruskan niat terlebih dahulu. Kalau riyadhoh kita tidak hanya untuk have fun, tapi juga untuk menjaga titipan Allah swt, ada nilai tambahnya juga kan? Pahala Insya Allah dapat; sehatnya juga dapat. Kalo niat riyadhoh kita lurus, kita dapat akhirat dan dunia juga otomatis. Namun, kalau niat belum lurus bisa-bisa cuma dapat capek saja. Opportunity cost kita lebih besar karena kita seharusnya bisa dapat lebih.

Apakah cukup niat saja? Sayangnya, niat belum cukup sobat. Walaupun niat kita sudah lurus, kalau cara pelaksanaan tidak sesuai dengan hukum dan aturan syariah, tetap aja tidak diterima di sisi Allah swt. Jadi, gimana dong aplikasinya sama kasus riyadhoh ini biar bawa benefit (baca ; pahala) buat kita dan tidak sia-sia? Tentu saja kita harus memutar otak untuk bisa mewujudkannya, karena walaupun berolahraga kita tetap tidak boleh mengabaikan kaidah syar’i agama kita, terutama untuk para wanita yang notabenya adalah makhluk yang punya ‘kelebihan’ (baca:daya tarik lebih).

Ada beberapa alternatif berkaitan dengan penjagaan kaidah syar’i nya :

1. Penampilan

Karena barang titipan kita ini butuh penjagaan yang lebih daripada kaum lelaki, penampilan dan cara berpakaian perlu jadi perhatian lebih di sini. Masih ingat kan kalau kita harus menjaga aurat? Kita harus pintar-pintar memilih pakaian yang tetap melindungi kita dari pandangan liar, apalagi kalo riyadhohnya di tempat umum. Kenapa harus begitu? Karena Allah sudah mengatur bagaimana seharusnya seorang wanita ketika berada di luar rumah lewat Al-Qur’an dan Hadist. Kalau riyadhohnya masih ‘mengumbar’ aurat nih…kira-kira Allah mau nggak menerima amalan ibadah kita? Sementara di sisi lain kita melanggar kaidah syar’inya. Jadi, no other choice nih. Kalo kita riyadhoh di tempat terbuka mau tak mau badan kita yang harus ditutup (baca;pakai hijab/jilbab).

2. Tempat

Kalau mau renang bagaimana? Masa iya pakai lengan panjang juga pake jilbab? Supaya aman, kita dapat memilih tempat yang memang khusus muslimah atau paling tidak khusus wanita, atau nebeng di rumah temen yang ada kolam renang dan rumahnya lagi nggak ada laki-laki atau setidaknya tempatnya tertutup. Tidak hanya renang aja; olah raga apa pun yang dapat menimbulkan hal-hal yang tidak baik antara lelaki dan perempuan lebih baik apabila tempatnya terjaga dari pandangan umum.

3. Waktu

Waktu adalah pedang. Biarpun awalnya diniatkan untuk beribadah, tapi proporsi juga harus disesuaikan dunk. Selain dianjurkan untuk tidak menelan terlalu banyak waktu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk aktivitas lain, pemilihan waktu juga harus diperhatikan. Jangan sampai sholat kita tertunda atau mengabaikan ibadah yang lain karena berolahraga. Nggak ada, misalnya, alasan meninggalkan puasa ramadhan karena mau berolahraga. Jadi, kita haurs pintar meletakkan sesuatu sesuai porsi dan posisinya.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan semakin mengasah ‘kreativitas’ sobat semua, dan bisa membuat kita lebih bijak dalam menentukan sesuatu. Sebagai tambahan, ada satu hadits yang bisa memperkuat alasan kita buat riyadhoh: “Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai dari seorang mukmin yang lemah” , jadi habis deh alasan kita buat ‘ngeles’ males olahraga.

Terlepas dari itu semua, sebagus apa pun penampilan kita, seindah apa pun tubuh kita, sekuat apa pun fisik kita, nilai kita yang sebenarnya di mata Allah. Tuhan kita, Raja kita, Sembahan kita adalah tetap ketaqwaannya. Apapun yang kita lakukan akan lebih baik dan sangat baik jika kita perbuat dalam rangka mengungkapkan rasa cinta dan syukur kita pada Allah, menjalankan ketaatan pada-Nya serta tidak mengorbankan Cinta dan Ridho-Nya. Itulah kunci “benefit” kita sepanjang hidup ini. Wallahualam bis showab.

Hesti Dianingrum (KaDiv MLC FSI FEUI)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: