Curhat bareng Arifin Ilham yuks!

19 07 2008

Assalamualaikum

apa kabar para pejuang??

haha apa sih..

kita ada cerita nih tentang tgl 8 juli kemarin, MIerz pada tanggal itu silaturahmi ke tempat dai kondang Ustd Arifin Ilham.. wah akhirnya kesampaian juga mengunjungi rumah beliau di daerah depok.. tujuan kita kesana selain silaturahmi, berkaitan dengan harapan kami agar ustd Arifin Ilham bersedia menjadi nara sumber dalam rubrik terbaru dari buletin kita Berdzikir..

oke bermulai dari kita, ada Adit keren, Fadil, Anis, Tia, dan Kabid 1 kita Gewe yang berniat jalan (gak jalan juga sih naek kendaraan) kerumah pak ustadz di daerah mampang indah depok.. awalnya kita berniat naik angkot kesana, namun karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 dan kita masi di kampus pukul segitu, sedangkan kita bikin appointment pukul (kasian waktunya dipukul terus) 16.30. Jadi Gewe si Kabid nyari mobil yg bissa dipinjam, dan dapatlah mobil itu boleh pinjem dari Martin teeman kita (syukron bwt Martin), tinggal supirnya.. dapatlah rekan kita sesama bidang 1 yang juga PO Menara, Windi yang bersedia menemani kita sambil menyetir mobil.. lalu jalanlah kita kesana dengan mobil martin, sedangkan adit dan fadil nguntit mobil pake motor dari belakang..

sesampainya disana, memang sedikit telat dari jadwal, tapi Alhamdulillah sampai dengan selamat, walau ada sedikit insiden dengan mobil, hehe gapapa kok martin tenang aja =P. Di depan rumahnya kita disambut dengan asisten pak Arifin, setelah berbicara, lalu kita diizinkan masuk, dan memang biasanya rumah pak ustadz open house tiap hari, dan selain kita juga ada beberapa tamu yang datang, cukup banyak, dan terlihatlah sosok yang sering muncul di TV, Pak Arifin Ilham dengan busana yang santai (kaos dan sarung), kesan pertama yang terlihat memang keramahan dan kenyamanan, karena kita langsung dipersilakan masuk.. setelah perkenalan yang cukup santai, kita mengucapkan maksud tujuan kami, agar Pak Arifin Ilham bersedia menjadi nara sumber dari rubrik Curhat di Berdzikir, dan bahkan kita belum sempat menyelesaikan kalimat, pak Ustadz langsung setuju setelah bertanya tujuan dan maksud tanpa pikir panjang, memang jika tujuannya baik pak Ustadz pun tak segan membantu.

bareng Pak Ustadz
bareng Pak Ustadz.. boleh gaya..

Nah karena tamu yang berkunjung juga banyak dan seperti nunggu antrian (hehe) kita cukup saja dan memberi kesempatan bagi yang lain, setelah mengucapkan terima kasih (tapi belom sempet makan kue hehe) dan minta doa dan nasihat dari pak ustadz kita berpamitan..

walaupun pertemuan berlangsung singkat, tetapi sungguh berkesan karena pak Arifin Ilham yang memanggil dirinya sendiri kepada kita dengan sebutan “abang”, seperti yang dibayangkan, ramah, bijak, tapi tidak kaku dan sesekali mengunakan humornya ketika berbincang.

Setelah itu kita pun pulang kembali ke Depok..

oya terima kasih ke Anis yang udah mengusahakan bertemu dengan pak Arifin Ilham, kak Gewe yang menemani kita, dan Windi yang juga ikut nemenin..

oya terakhir,

kan tadi disebut ada rubrik baru di Berdzikir yaitu rubrik Curhat.. dimana segala keluh kesah pembaca seputar kehidupannya atau ada pertanyaan yang nyangkut di tenggorokan (gak enak bgt nyangkutnya) tentang Agama Islam, silahkan bertanya ke redaksi kami, bisa melalui email berdzikir@yahoo.com, no ini : 02199886643, atau gampangnya langsung aja comment di postingan ini, Insya Allah pertanyaan yang dipilih akan dijawab oleh Ustadz Arifin Ilham pada edisi Berdzikir yang akan datang (bulan september awal), pertanyaan ditunggu sampai tanggal 1 agustus 2008

okeh ditunggu ya..

-adit keren-

wassalamualaikum





MI Back to TK

5 07 2008

Rundown (Lari ke bawah) Acara

MI goes To TMII (Taman Media Islam)

09.00 : Yang dari UI dah pada ngumpul langsung brangkat naek K19 PJ Tia

10.00 – 10.30 : ngumpul di TMII Pintu 1 deket keong Mas kayanya

10.30- 11.00 : naek KA Mini/Aero Movel/ kereta gantung or whatever ke tempat IPTEK

11.00-12.00 : Maen2 di tempat IPTEK

12.00- 13.00 : Shalat Dzuhur di Masjid Diponegoro, kesananya naek kereta aje

13.00 – 14.30 : makan siang, ngemper, tuker kado, naek perahu kalo mao PJ Ana

15.00 – 16.00 : ke museum apa gitu. Suggest : komodo, akuarium, burung, Indonesia, istana bocah

16.00 – 16.30 : Shalat Ashar, persiapan pulang

16.30 : pulang, lagian dah mo tutup…





Siklus Peradaban dan Kepahlawanan

4 07 2008

Oleh : Muhammad Kholid

Jika sejarah adalah sebuah industri besar yang memproduksi peradaban maka pahlawan adalah salah satu variabel faktor produksi yang terpenting. Sama halnya dengan sebuah produk, maka peradaban juga mengalami yang namanya life cycle. Dan dalam life cycle itu, pahlawanlah yang menjadi variabel utamanya.

Siapa mengira peradaban Eropa yang telah runtuh dan berada dalam ‘the darkness middle age’ selama 1000 tahun lebih mampu reborn, tumbuh bahkan bangkit memimpin dunia kembali? Siapa yang percaya bahwa Islam sebagai sebuah peradaban yang pernah berhasil memimpin dunia selama 700 tahun, dan peletak dasar-dasar keilmuan peradaban barat sekarang ini mengalami dramatic decline yang luar biasa ? Atau bagaimana mungkin kedigdayaan Romawi dan Yunani kuno yang tak tertandingi bisa ditaklukan oleh negeri gersang pimpinan seorang nabi yang bahkan membaca saja tidak bisa (ummi)? Tengoklah sejenak bagaimana sejarah bercerita tentang Negara agraris yang sangat miskin, terisolir, dan bahkan sangat tidak menarik walau hanya untuk dijadikan daerah jajahan pada akhirnya bisa bangkit menjadi kekuatan economic super power baru hanya dalam jangka waktu 40 tahun setelah Restorasi Meiji ?

Suatu ketika Raja Faruk, Raja Mesir terakhir sebelum Revolusi Nasser, berkomentar terhadap seorang aktivis muda yang masih berusia 22 tahun. “ Apa sih yang bisa dilakukan oleh seorang guru ngaji madrasah?,” Katanya risih karena ulah pemuda yang satu ini. Benar memang. Apa sih yang bisa dilakukan oleh anak muda usia 22 tahun yang baru lulus kuliah dan hanya bekerja sebagai guru ngaji di madrasah terhadap rezim yang berkuasa dan mendapat back up penuh dari kolonial yang juga Negara super power saat itu?Tak ada ! Jawab logika kita. Tapi anak muda ini berkata, “Aku adalah pengembara yang mencari hakikat manusia, aku adalah manusia yang mencari makna kemanusiaan di tengah masyarakat, aku adalah warga Negara yang menginginkan agar umatnya mendapat kemuliaan, kemerdekaaan, kestabilan dan kehidupan yang baik dalam naungan Islam yang hanif !”. Ketika beribu alasan memaksanya untuk mengatakan ‘tidak mungkin’ menentang kedzaliman dan kolonialisme yang menjajah agama dan negerinya, bahkan ketika ‘sejarah’ saat itu tidak berbaik hati untuk memberinya secercah harapan, dia dengan lantang berkata, “ Kebangunan semua bangsa di dunia ini selalu bermula dari kelemahan. Sesuatu yang sering membuat orang yang ketika melihatnya berkeyakinan bahwa pencapaian kebangunannya adalah sesuatu yang mustahil.Tetapi dibalik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan dan ketenangan dalam melangkah dapat mengantarkan bangsa-bangsa lemah itu merangkak dari ketidakberdayaannya menuju takdir kejayaannya..”

Anak muda ingusan ini telah berhasil mendirikan maha karyanya dalam sebuah International Islamic Movement yang dia namakan Al Ikhwan Al Muslimun yang kini menjadi gerakan revivalisme tandingan peradaban barat dan menyebarkan ideologi dan inspirasinya di lebih dari 70 negara. (Termasuk di Indonesia, terutama di kampus-kampus sekuler terkemuka negeri ini). Dia telah mendirikan bangunan kepahlawanan. Sebuah bangunan yang baik. Sangat baik. Seperti namanya. Hasan Al Banna.

Sekarang pertanyaannya adalah : jika peradaban ‘diciptakan’ oleh pahlawan, maka kapan seorang pahlawan itu akan lahir?

Kelemahan, itulah kata kuncinya. Ketika kelemahan menguatkan kelemahan. Ketika kelemahan bercampur kelemahan. Ketika kelemahan di atas kelemahan. Saat itulah manusia pahlawan mengenakan baju kebesarannya sebagai Sang Pahlawan.

Itulah pekerjaan yang dilakukan oleh FDR, panggilan akrab Franklin Delano Rosevelt, satu-satunya presiden USA yang terpilih sampai empat kali jabatan. Ketika dia memimpin, ada empat bencana besar yang menimpa dirinya. The Great Depression yang melumpuhkan total system kapitalisme Amerika dan mematahkan teori invisible hand Adam Smith, penyakit polio yang melumpuhkan kakinya, kebangkitan Nazi yang mulai menguasai Eropa dan mengancam Amerika dan peristiwa mengerikan di Pearl Harbour. Anda bisa bayangkan, kegiatan sosial, ekonomi, politik, keamanan dan bahkan kesehatan dirinya sangat layak untuk dia jadikan alasan membiarkan Amerika mengakhiri sejarahnya sebagai negeri super power. Bahkan saat itu semua pembantu dan orang-orang terdekatnya pesimis akan kebangkitan kembali Amerika dibawah kepemimpinannya. Saat itu FDR marah besar dengan kerdilnya jiwa para pembantunya. Lalu dia berdiri kemudian berkata, “ This great nation will endure as it has endured, will revive and will prosper. So first of all, let me assert my firm belief, that only thing we have to fear is fear itself “

New Deal ! Dia mencanangkan kebijakan barunya yang sangat melegenda itu. Dia mendobrak mitos Laissez Faire- Smithian dan mulai menerapkan government’s intervention ke pasar seperti yang disarankan oleh Keynes dalam General Theory nya yang termasyhur itu. Dia tingkatkan government’s expenditures. Dia bantu para petani, mensubsidi harga produk petani dan menerapkan Agriculture Adjustment Act. Untuk menangani unemployment, dia bangun infrastruktur besar-besaran dalam bidang public goods seperti Civilian Conservation Corps, Civil Work Administration Work dan Work Progress Administration (WPA). Jutaan orang yang sebelumnya menganggur jadi bisa bekerja lagi. Mereka bekerja dalam pembangunan jalan,jembatan, bendungan, bandara, sekolah, universitas, perpustakaan, hospital dll. WPA juga memberikan pekerjaan pada para artis dan seniman untuk berkreasi. Hasilnya? 500 ribu mil jalan raya berhasil dibangun, 100 ribu jembatan di seluruh Amerika berhasil dibangun termasuk Golden Gate, 110 ribu gedung public, 600 ribu pelabuhan udara besar dan kecil, Empire State Building yang merupakan gedung pencakar langit saat itu pun dibangun dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan kesusksesannya yang fenomenal ini, FDR disejajarkan bersama George Washington Sang Pendiri Amerika Serikat dan Abraham Lincoln, The Legend President of USA.

Ketika sebuah peradaban mandul dan ‘impotent’ untuk melahirkan pahlawan, maka disaat itulah peradaban akan menemui yang oleh Francis Fukuyama sebut sebagai ‘The End of History. Dan sebaliknya, ketika segumpal janin pahlawan tertanam di rahim sejarah, maka anak peradaban yang baru akan siap terlahir kembali. Inilah yang terjadi pada Romawi dan Yunani kuno sebagai pusat peradaban Eropa. Peradaban besar hasil karya Alexander The Great, Julius Caesar dan Marcus Aurelius ini harus runtuh oleh serangan orang-orang Barbar yang sudah lama menghuni perbatasan utara Eropa pada tahun 476 M. Sungguh tidak masuk akal, negeri yang melahirkan para The Greatest Philosopher seperti Socrates, Aristoteles, Plato, Cicero, Homer dan Galen ini tiba-tiba harus lenyap dan menghilang termakan waktu selama 1000 tahun lebih. Hingga tibalah masa Renaisance di Italia. Lahirlah Sang Bangsawan sekaligus Ilmuwan yang haus dengan ilmu, Cosimo de Medici dan Lorenzo de Medici pada Abad 14. Mereka membangun perpustakaan besar-besaran sebagi pusat kajian intelektual para filosof Yunani-Roamwi Kuno dan Islam yang masih tersisa. Gayung bersambut, Johann Guttenburg seorang pengusaha dan ahli logam asal Jerman berhasil menciptakan terobosan yang luar biasa dengan membuat mesin percetakan yang saat itu masih belum ada. Penemuan besar ini mengubah wajah peradaban Eropa dengan sangat cepat. Karya-karya terbaik peradaban Romawi-Yunani Kuno serta Islam dicetak dalam jumlah yang sangat banyak dan disebar keseluruh penjuru Eropa. Dengan begitu, maka lahirlah Leonardo Da Vinci, Sang manusia Super Genius. Lahirlah pahlawan-pahlawan lain seperti Copernicus, Galileo Galilei, Rene Descrates dan Newton. Eureeka ! Inilah awal Renaisance Eropa.

Siklus peradaban dan kepahlawanan adalah dua pasangan yang tak bisa dipisahkan. Keduanya saling membutuhkan dan menciptakan. Saya jadi teringat dengan dictum Thomas Carlyle yang terkenal, “ Sejarah (peradaban) hanyalah catatan orang-orang besar (pahlawan). Tidak kurang tidak lebih “.

Pada akhirnya saya hanya bisa bertanya : kapan ibu pertiwi ini akan melahirkan pahlawan-pahlawan untuk bangsaku yang sedang mati suri ini? Apakah dia sedang ‘hamil tua’? Atau jangan-jangan ia memang sudah ‘mandul’ dan tak bisa melahirkan lagi seorang pahlawan?





Laporan hasil survey publik FEUI

1 07 2008

Forum Studi Islam (FSI) adalah satu-satunya organisasi yang diakui secara resmi menaungi seluruh mahasiswa Muslim di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sayangnya hal ini kurang dipahami oleh sebagian besar mahasiswa FE. Terbukti dari 211 sampel yang di ambil secara random, hanya 100 mahasiswa saja yang mengetahuinya. Atau hanya 47,4% mahasiswa FEUI yang menyadari bahwa anggota FSI adalah seluruh mahasiswa/i Muslim yang sedang menjalani studinya di FEUI. Sehingga hal ini menimbulkan sebuah ironi, karena sebanyak 52,6% (dari sampel yang di ambil) mengatakan bahwa anggota FSI adalah mereka-mereka yang tergabung dalam kepengurusan organisasi FSI dalam suatu periode tertentu saja.

Sebanyak 122 koresponden menyatakan bahwa selama ini, keberadaan FSI dianggap sudah berhasil meningkatkan pengetahuan tentang agama Islam. Dan hanya 57 koresponden saja yang menyatakan bahwa FSI tidak memberikan pengaruh terhadapa pengetahuan mereka tentang agama Islam.

Keberadaan FSI dianggap oleh 111 koresponden (52,6%) sudah memberikan pengaruh yang positif terhadap perilaku mereka dalam kehidupan sehari-harinya. Dan 80 koresponden (37,9%) menyatakan bahwa keberadaan FSI tidak mempengaruhi sikap dan perilaku mereka. Sisanya lebih memilih abstain. Hal ini memiliki korelasi positif terhadap penilaian mahasiswa mengenai apakah FSI sudah mensyiarkan Islam dengan baik dan benar. Karena hanya 36% koresponden yang menatakan bahwa FSI sudah berhasil mensyiarkan Islam dengan baik dan benar, sedangkan 30,8% koresponden memilih abstain.

Selama perjalanan kepengurusan FSI, sebanyak 39,3% koresponden menyatakan bahwa kinerja organisasi FSI sudah memuaskan. Dan hanya 23,7% yang menyatakan tidak puas atas kinerja organisasi ini, sedangkan sisanya memilih abstain.

Sebagai sebuah organisasi Badan Semi Otonom, FSI memiliki sebuah mading yang terletak di antara mading KANOPI dan madding ESAC. Sebanyak 163 koresponden (77,25%) menyatakan bahwa mereka mengetahui keberadaan dan pernah membaca mading tersebut. Dan penilaian dari mereka yang pernah membaca mading tersebut, hanya 40,28% koresponden saja yang menyatakan bahwa mading FSI dinilai memuaskan. Kepuasan di sini dilihat dari penampilan dan isi dari mading tersebut. Sedangkan 41,7% koresponden menyatakan bahwa penilaian mading FSI biasa-biasa saja, dan hanya 11% koresponden yang menyatakan ketidakpuasannya terhadap mading FSI, sisanya lebih memilih abstain.

Selain memiliki mading, FSI juga memiliki sebuah perpustakaan sendiri yang terletak di Gedung Student Center lantai dua. Keberadaan perpustakaan FSI ini diketahui oleh 65,4% koresponden. Sayangnya muncul sebuah ironi, karena dari mereka yang mengetahui keberadaan perpustakaan tersebut, hanya 25,11% koresponden saja yang pernah meminjam buku dari perpustakaan FSI.

Selama berjalannya kepengurusan FSI, sebanyak 78,67% koresponden mengetahui akan kegiatan yang pernah diselenggarakan FSI. Mayoritas kegiatan yang mereka ketahui berturut-turut adalah PDAI (Pengenalan Dasar Agama Islam), Second, dan KIEI (Kuliah Informal Ekonomi Islam). Sebanyak 43,13% koresponden yang mengetahui akan adanya produk/kegiatan FSI menilai bahwa publikasi dari kegiatan tersebut sudah baik dan memuaskan, 33,18% menilai publikasi yang diadakan terkesan biasa-biasa saja, 14,2% menilai publikasi yang diadakan buruk dan tidak memuaskan, dan sisanya memilih abstain. Meskipun 43,13% koresponden menilai publikasi kegiatan FSI sudah berjalan dengan baik, namun hanya 50,24% saja yang pernah berpartisipasi (baik sebagai panitia maupun sebagai peserta) dalam kegiatan FSI. Dan dari penilaian mereka terhadap kegiatan yang pernah diadakan FSI, sebanyak 32,2% menyatakan puas akan kegiatan FSI yang pernah mereka ikuti, 18% menilai biasa saja terhadap kegiatan FSI yang pernah mereka ikuti, hanya 9,48% yang menyatakan ketidakpuasannya terhadap kegiatan FSI yang pernah mereka ikuti, dan sisanya memilih abstain.

source: humas FSI





Mencari Ilmu

1 07 2008

Agama Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Hal ini terbukti dengan ayat pertama Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw dari Malaikat Jibril yang tak lain adalah ”Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan,” (Al-Alaq: 1). Ayat tersebut menyuruh seluruh umat untuk mencari ilmu dengan cara membaca. Islam juga sangat memberi penghargaan kepada orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan: ”…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujadilah: 11)

Dengan kenyataan seperti itu, sudah selayaknya kita semua memanfaatkan waktu kita di bangku kuliah seoptimal mungkin untuk mencari sebanyak-banyaknya ilmu pengetahuan. Kita akan mewujudkan suatu bentuk syukur yang nyata dengan mencari ilmu pengetahuan. Maksudnya, kita semua cukup beruntung dapat diterima di FEUI dengan segala fasilitas dan prasarana pendidikan yang ada, seperti perpustakaan, penyediaan hotspot, pihak dekanat yang mendukung kemahasiswaan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, akan disayangkan apabila kesempatan yang ada untuk mencari ilmu disia-siakan begitu saja.

Banyak cara untuk mencari ilmu itu. Sebagai mahasiswa, sudah merupakan suatu kepastian bahwa ilmu akan diperoleh lewat proses belajar-mengajar antara dosen dan mahasiswa. Di samping itu, banyak hal lain yang dapat dipelajari, tetapi tidak dapat diperoleh di bangku kuliah dengan hanya mengandalkan buku kuliah, yaitu soft skills seperti interpersonal skills, leadership skills, dan skills-skills lainnya. Keahlian-keahlian tersebut hanya dapat diperoleh melalui kegiatan yang ekstra kurikuler, seperti mengikuti seminar, terjun dalam organisasi, berpartisipasi dalam suatu kepanitiaan, atau mengajar secara part-time.

Semester pendek kali ini merupakan suatu kesempatan yang sangat baik untuk mencari ilmu. Karena mata kuliah tidak terlalu banyak, maka kita dapat lebih fokus ke mata kuliah yang diambil saja. Selain itu, karena waktu tidak tersita untuk mengerjakan terlalu banyak tugas, maka hal itu memungkinkan kita untuk mengerjakan hal-hal lain, entah itu kerja part-time, mengikuti seminar, mengikuti training, dll.

Apapun jalan yang ditempuh, pastikan terlebih dahulu bahwa niat kita adalah mencari ilmu semata-mata untuk mencari ridho Allah swt karena semua yang kita dapat tidak hanya berasal dari usaha dan doa kita, tetapi juga terjadi atas izin-Nya. Untuk menyemangati sobat Berdzie semua, simak hadits Rasul berikut ini ”Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga kembali”.